••••Selamat Datang di Info Kita Saja Blog••••
Terbaru Hari Ini
print this page
Postingan Baru
Tampilkan postingan dengan label Otomotif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Otomotif. Tampilkan semua postingan

Yamaha akan meluncurkan motor tiga roda

Yamaha telah mengonfirmasi bahwa mereka akan meluncurkan produksi pertama motor tiga roda atau Miring Multi-Wheeler (LMW) pada tahun 2014. Motor baru Yamaha ini memiliki dua roda depan dan satu belakang, secara bentuk menyerupai Piaggio MP3.

  Yamaha akan meluncurkan motor tiga roda
Yamaha Miring Multi-Wheeler
 
Yamaha akan memamerkan motor ini pada Tokyo Motor Show yang akan digelar pada bulan November mendatang. Pada waktu yang bersamaan motor tiga roda Yamaha ini juga akan dipamerkan pada di EICMA 2013.


Pihak Yamaha mengklaim bahwa LWM roda tiga baru akan lebih atletis dibandingkan dengan kendaraan sejenis pesaing, dan untuk ini dan untuk mendapatkan sekitar kota, dan untuk bersantai. Bahkan, Yamaha mencoba untuk membuat sepeda motor roda tiga analog - manuver yang sama, tapi lebih aman dan stabil. Tentu saja, fitur utama akan menjadi suspensi depan khusus, yang akan datang silih berganti becak dengan miring seperti sepeda motor.

 

Dalam tampilan foto yang beredar, pihak Yamaha sepertinya juga akan memproduksi motor yang menggunakan empat roda, dua di bagian depan dan dua di belakang.

Yamaha akan meluncurkan motor tiga roda ini tahun depan dengan harga di bawah 1 juta yen atau sekitar Rp 100 jutaan.  (Merdeka)
0 komentar

Dahlan Iskan - Kisah Perjalanan Mobil Listrik Tucuxi dan Harapan Kemajuan Teknologi Otomotif Nasional

Jakarta | Ini mirip dengan istilah "sengsara membawa nikmat". Kecelakaan ini, meski menimbulkan keributan yang bising, benar-benar memberikan pelajaran yang berharga.

Selama ini, secara ilmiah, memang terjadi perbedaan pandangan di antara lima putra petir yang menciptakan kendaraan/mobil listrik yang saya koordinasikan. Perbedaan pandangan seperti itu juga terjadi di luar negeri yang lagi sama-sama dikembangkan di seluruh dunia.


Dahlan Iskan Berpoto Bersama Mobil Listrik Tucuxi Karya Danet Suryatama
Dahlan Iskan Berpoto Bersama Mobil Listrik Tucuxi Karya Danet Suryatama
 
Ada yang berpandangan, mobil listrik tidak perlu menggunakan gear box. Untuk itu, power dari motor listrik langsung menggerakkan gardan/roda.
Tapi ahli kita seperti Ir Dasep Ahmadi MSc (alumni ITB), berpendapat mobil listrik harus menggunakan gear box. Ricky Elson, putra Padang yang melahirkan 14 paten motor listrik di Jepang, termasuk golongan ini. Demikian juga Ravi Desai (alumni Gujarat). Mereka setuju tidak harus pakai gear box, tapi harus hanya untuk mobil dalam kota (city car).

Kecelakaan mobil Tucuxi (baca: tukusi, nama sejenis lumba-lumba) yang saya kemudikan di dataran tinggi Tawangmangu-Sarangan Sabtu pekan lalu, memberikan pelajaran yang sangat penting mengenai pilihan-pilihan tersebut.


Saya memang tidak ingin menyatukan pendapat mereka. Ilmuwan perlu diberi kebebasan untuk mewujudkan ambisi keilmuannya. Apalagi saya menangkap sinyal para ahli kita itu memang ingin membuktikan kehebatan masing-masing. Saya sangat menghargai itu. Saya memilih bersikap memberikan otonomi yang luas kepada mereka.

Karena itu ketika Kang Dasep menciptakan mobil AhmaDI dengan menggunakan gear box saya dukung penuh. Dana talangan langsung saya kirim. Ketika mobil hijau itu jadi kenyataan, saya langsung mencobanya.

Sebenarnya, pada awalnya, saya dan Kang Dasep menanggung malu: begitu tiba di Jalan Thamrin Jakarta (dari Depok), mobil AhmaDI "mogok". Media meliputnya dengan besar-besaran. Saya malu sekali. Tapi saya minta Kang Dasep tidak menyerah. Setelah dianalisis, ternyata mobil itu tidak rusak, melainkan low batt. Indikator baterainya kurang sempurna sehingga "menipu".

Mobil Listrik Karya Ir Dasep Ahmadi MSc
Mobil Listrik Karya Ir Dasep Ahmadi MSc
 
Minggu berikutnya kami berdua masih menanggung malu: mobil listrik itu tidak kuat menaiki tanjakan. Padahal tidak terjal. Padahal perjalanan uji coba ini juga diliput langsung oleh media secara luas.

Sekali lagi saya minta Kang Dasep untuk tidak patah semangat.

Sebetulnya masih banyak "malu" yang lain. Tapi biarlah itu hanya kami berdua yang merasakan.

Tiga bulan kemudian, ketika mobil AhmaDI kian sempurna, rasa malu itu berubah menjadi bangga. Putra bangsa kita bisa menciptakan mobil listrik. Saya pun mencobanya secara sungguh-sungguh. Saya mengemudikan mobil tersebut hampir setiap hari hingga mencapai 1.000 km. Kang Dasep sendiri, di luar 1.000 km yang saya lakukan, mencobanya dari Bandung ke Jakarta melalui Puncak. Tidak ada masalah sama sekali. Tanjakan yang terjal dan turunan yang curam dilewati dengan mudah. Kang Dasep dengan ketekunan dan kecerdasannya boleh dikata berhasil gemilang.

Setelah itu saya minta Kang Dasep membuat mobil listrik jenis yang lebih besar. Sebesar Alphard. Tiga bulan lagi, insya-Allah, sudah bisa dilihat. Saya sudah setuju untuk membiayainya. Bahkan saya juga sudah minta Kang Dasep untuk membuat bus listrik.

Seminggu setelah mobil AhmaDI selesai dicoba sampai 1.000 km, mobil Tucuxi bikinan Mas Danet Suryatama (alumni USA) selesai dibuat. Saya pun bertekad untuk mencobanya dengan sungguh-sungguh sampai 1.000 km.

Begitu tiba di Jakarta 19 Desember lalu, mobil Tucuxi (semula saya usul namanya Gundala, tapi mas Danet memutuskan nama ini) saya coba dari Pancoran ke Bandara Soekarno-Hatta. Mas Danet mendampingi saya. Sepanjang perjalanan sekitar 30 km itu saya merasakan apa saja yang menjadi kelebihannya dan apa saja kekurangannya. Mobil tiba di Cengkareng dengan kebanggaan penuh: Mas Danet hebat! Hari pertama ini tidak membawa malu.

Kalau toh ada kekurangannya hanya kami berdua yang tahu. Saya langsung menyampaikan kekurangan-kekurangan itu ke Mas Danet. Saya minta diperbaiki. Dua hari kemudian Tucuxi saya coba lagi di sekitar Stadion Utama Senayan. Dua jam lamanya. Tucuxi mengelilingi stadion berkali-kali. Beberapa wartawan secara bergantian ikut mencoba duduk di sebelah saya.

Semua yang menyaksikan terlihat bangga. Putra Indonesia ternyata hebat-hebat.

Beberapa kekurangan memang masih terasa. Tapi tidak mungkin diperbaiki di Jakarta. Maka saya minta Tucuxi dibawa kembali ke Jogja. Mas Danet lantas menuduh saya melakukan pencurian teknologi. Saya tidak begitu jelas teknologi apa yang saya curi dan untuk apa.

Syukurlah, dalam keterangan pers terbarunya akhir pekan kemarin, Mas Danet tidak lagi menyebut-nyebut soal pencurian teknologi. Yang dipersoalkan tinggal kesalahan cara saya mengemudi dan (menurut perasaannya) saya akan menyingkirkannya.

Setelah diperbaiki, mobil dicoba di sekitar Jogja. Tidak ada masalah. Termasuk sampai Kaliurang. Tapi suasana sudah kurang nyaman akibat isu pencurian teknologi yang sudah meluas.

Saya sendiri saat itu lagi keliling hutan jati milik BUMN di Randublatung, Blora, dan Purwodadi. Saya sedang mendesain pola kemitraan antara Perum Perhutani dan masyarakat miskin sekitar hutan. Saya bermalam di Semarang. Karena mau pulang ke Magetan, saya harus lewat Solo. Karena itu saya minta Tucuxi disiapkan di Solo. Untuk saya coba lewat medan yang berat.

Ini penting karena uji coba selama ini baru dilakukan di jalan yang datar. Sebagai mobil yang dibuat dengan biaya hampir Rp 3 miliar mobil ini harus dicoba di daerah yang sulit. Terutama melewati jalan yang menanjak. Pikiran saya selalu: bisakah mengatasi tanjakan. Apalagi sampai 1.300 meter seperti di Sarangan. Ricky Elson menemani saya.



Ternyata hebat sekali. Sepanjang jalan saya terus memuji Mas Danet. Luar biasa. Tarikannya, powernya dan kemampuan menanjaknya hebat sekali. Demikian juga kemampuan baterainya.

Baru ketika jalan mulai menurun dengan sangat tajamnya, dengan belokan-belokan yang berliku, saya mulai was-was. Saya harus menginjak rem sekuat tenaga. Saya tidak segera menyadari bahwa Tucuxi berbeda dengan AhmaDI. Saya tidak segera menyadari kalau Tucuxi ciptaan Mas Danet ini tidak menggunakan gear box. Untuk menahan laju Tucuxi, sepenuhnya hanya menggantungkan pada kekuatan rem. Tidak ada bantuan pengendalian dari gear box!

Tentu saya mencoba untuk sesekali mengendorkan rem agar tidak over heated. Ini juga disinggung dalam keterangan pers terbaru Mas Danet. Tapi setiap kali rem saya longgarkan mobil langsung melaju. Padahal jalan berkelok-kelok dengan jurang dalam di sisinya. Tentu saya tidak berani tidak menginjak rem kuat-kuat. Mungkin, seperti disebut Mas Danet, saya memang salah dalam cara mengemudi seperti itu.

Tapi, mengingat jurang-jurang yang dalam di kawasan itu, saya terus menginjak rem dengan kekuatan kaki sekuat-kuatnya. Untung otot kaki saya lumayan kuat karena setiap hari senam satu jam di Monas. Tapi bau menyengat akibat rem yang bekerja keras tak tertahankan. Saya memutuskan untuk berhenti. Sekalian mendinginkan rem. Penurunan tajam masih akan panjang dan berliku. Totalnya 15 km. Masih akan sampai di Ngerong.

Waktu berhenti ini, semua orang yang mengerumuni Tucuxi membicarakan soal bau yang menyengat itu. Lantas berfoto-foto di ketinggian lereng gunung Lawu yang indah. Kabut tebal yang menyelimuti jalan dan dataran tinggi itu menambah keindahan pemandangan.

Seandainya waktu istirahat ini dibuat lama, sampai rem dingin, mungkin kecelakaan itu tidak terjadi. Tapi saya terikat janji dengan Dr Fachri Aly yang akan ke kampung saya sore itu. Dan malamnya kami masih akan sholawatan Maulid Nabi dengan Habib Syekh dari Solo di kampung saya itu.

Kami pun segera berangkat lagi. Tucuxi kembali harus menuruni jalan yang curam dan berliku. Kami masih belum menyadari bahwa tanpa bantuan gear box rem akan bekerja sendirian terlalu keras. Kekuatan kaki saya sepenuhnya untuk menginjak rem sedalam-dalamnya. Bau menyengat kembali menusuk-nusuk hidung.

Ketika akhirnya berhasil mencapai Ngerong saya pun lega. Tidak ada lagi penurunan yang curam dan berkelok. Jalan memang masih akan terus menurun tapi sudah tidak ekstrem.

Justru di saat hati sudah lega itulah saya merasakan rem Tucuxi tidak lengket lagi. Mobil melaju di jalan yang menurun tanpa bisa dihambat oleh rem. Saya coba angkat rem tangan. Sama saja. Mobil kian kencang. Tidak terkendali. Saya sadar sepenuhnya. Maka saya harus ambil keputusan cepat. Terlambat sedikit akan banyak memakan korban.



 

Saya segera memutuskan ini: lebih baik saya sendiri yang menjadi korban. Saya lihat ada tebing terjal di kanan jalan. Mumpung tidak ada mobil dari arah berlawanan, saya banting setir mobil itu untuk menabrak tebing itu. Braaak! Mobil hancur. Tidak ada lagi atap di atas kepala saya. Tapi saya tidak terpelanting. Saya tetap terduduk di belakang setir. Saya raba kepala saya: tidak ada darah. Saya raba muka saya: tidak ada luka. Saya gerakkan kaki-kaki saya: normal. Tidak ada yang terjepit.

Setelah mengucap syukur kepada Allah, saya kembali memuji Mas Danet. Konstruksi mobil ini tidak membuat saya mati terjepit atau menderita luka. Bahkan tergores sedikit pun tidak. Padahal, seperti kata polisi, kaca-kaca mobil ini bukan kaca fiber yang kalau pecah berubah menjadi kristal. Kaca-kaca ini jenis kaca yang pecahnya membentuk segitiga-segitiga kecil. Allahu Akbar!




Saya pun memperoleh pelajaran luar biasa hebat: pentingnya fungsi gear box. Karena itu, ke depan, masyarakat harus bisa memilih: beli mobil listrik yang pakai gear box atau yang tidak pakai gear box.

Mungkin saya akan menghadapi masalah hukum akibat pelanggaran saya ini. Itu akan saya jalani dengan seikhlas-ikhlasnya. Tapi pelajaran teknologi tadi akan menyelamatkan banyak orang di masa depan. Saya akan jalani konsekwensi itu, tapi ilmu pengetahuan harus tetap berkembang. Tidak boleh terhenti karena kecelakaan ini.

Mobil listrik harus jaya!

Baik Kang Dasep yang menggunakan gear box maupun Mas Danet yang tidak menggunakan gear box sama-sama hebatnya. Sama-sama sudah membuktikan dirinya menjadi putra bangsa yang membanggakan. Tucuxi akan dikenang sepanjang sejarah mobil listrik di Indonesia.

Mas Danet akan terus saya dorong untuk proyek berikutnya. Tentu kalau dia terbuka untuk mendiskusikan teknologinya.

Yang penting putra-putra bangsa harus menguasai teknologi mobil listrik. Saya terbuka untuk putra-putra petir yang lain. Mari berlomba untuk kebaikan negeri. Mumpung negara-negara maju juga baru mulai melakukannya. Kesalahan masa lalu tidak boleh terulang. Kalau mobil listrik tidak kita siapkan sekarang kita akan menyesal untuk kedua kalinya. Kelak, kalau dunia sudah berganti ke mobil listrik jangan sampai kita kembali hanya jadi pasar mobil impor seperti sekarang ini!

Mobil listrik made in Indonesia harus berjaya! Sekaranglah saatnya Indonesia punya kesempatan bisa bersaing dengan negara maju!

*Oleh Dahlan Iskan

Menteri BUMN
(mdk/rin)


Sumber : 
http://klimg.com/merdeka.com/i/w/news/2013/01/14/138241/250x125/mulai-pencurian-teknologi-sampai-cara-mengemudi-kolom-dahlan-iskan.jpg
http://merdeka.com/khas/mulai-pencurian-teknologi-sampai-cara-mengemudi-kolom-dahlan-iskan.html

http://abarky.blogspot.com/2013/01/mulai-pencurian-teknologi-sampai-cara.html
0 komentar

Bali berniat bangun sirkuit bertaraf Formula 1

Konsorsium perusahaan multinasional dan internasional merencanakan pembangunan sirkuit balapan mobil Formula 1 di atas lahan seluas 100 hektare di Kabupaten Badung, Bali.

Bali berniat bangun sirkuit bertaraf Formula 1
 

"Wacana tersebut sudah dihembuskan cukup lama dan sirkuit itu rencananya akan dibangun beserta resor dan marina di kawasan Teluk Benoa," kata Anthony Sarwono, pengamat otomotif sekaligus pelaku usaha properti di Denpasar, Rabu (26/12).

Pembangunan sarana olahraga bertaraf internasional itu merupakan bagian dari proyek reklamasi di Teluk Benoa. Berdasarkan pengamatannya, sampai saat ini proyek tersebut masih dalam tahap proses perizinan di Pemprov Bali.


Sempat beredar kabar bahwa pembangunan yang utama lebih difokuskan pada proyek resort dan marina daripada pembangunan sirkuit. Kendati demikian, keberadaan sirkuit F1 di Pulau Dewata sangat layak untuk dikembangkan sebagai bagian dari wisata olahraga.

Anthony menilai posisi Bali sangatlah layak dengan adanya sirkuit F1, mengingat selama ini Indonesia hanya menjadi jalur yang dilewati dalam agenda tempat perhelatan dunia otomotif bergengsi itu.

"Setelah di Australia jadwal pertandingan F1 berlanjut ke Malaysia. Indonesia hanya dilewati begitu saja. Padahal perhatian dunia saat ini terfokus pada Asia karena regulasi Eropa yang tidak mendukung rokok sebagai sponsor utama kegiatan balap internasional tersebut," ucapnya.

I Nyoman Seniweca, kandidat Ketua IMI Bali, menambahkan bahwa adanya sebuah fasilitas olahraga otomotif yang berstandar internasional di daerahnya sangat mendukung industri pariwisata.

Ia mencontohkan penyelenggaraan F1 di Singapura yang berdampak pada peningkatan jumlah kunjungan wisatawan sehingga akomodasi dan fasilitas pendukung pariwisata lainnya ikut terdongkrak. "Akan tetapi semuanya diserahkan lagi kepada sikap dan niatan dari pemerintah daerah apakah mendukung atau sebaliknya," tutupnya.


Sumber : Merdeka
0 komentar

Daftar terbaru peserta MotoGP 2013

Lukas Pesek yang baru saja diumumkan secara resmi akan bergabung dengan tim IodaRacing CRT, menjadi pelengkap daftar peserta MotoGP 2013 mendatang.

Daftar terbaru peserta MotoGP 2013
 
Tahun depan, terhitung ada 24 pebalap reguler yang akan berpartisipasi. Dari daftar peserta, terdapat tiga tim pabrikan dan tiga tim satelit, sedangkan CRT yang akan turun ke lintasan sebanyak tujuh tim.

Dari 24 pebalap tersebut, enam di antaranya akan membela tim pabrikan dan enam yang lain membela tim satelit. Sementara sisanya akan membela tim CRT.



Berikut daftar peserta MotoGP 2013:


Tim pabrikan:

Jorge Lorenzo - SPA - Yamaha - hingga akhir 2014
Valentino Rossi - ITA - Yamaha - hingga akhir 2014
Dani Pedrosa - SPA - Repsol Honda - hingga akhir 2014
Marc Marquez - SPA - Repsol Honda - hingga akhir 2014*
Nicky Hayden - USA - Ducati - hingga akhir 2013
Andrea Dovizioso - ITA - Ducati - hingga akhir 2014

Tim satelit:

Cal Crutchlow - ING - Tech 3 Yamaha - hingga akhir 2013
Bradley Smith - ING - Tech 3 Yamaha - hingga akhir 2014*
Ben Spies - USA - Pramac Ducati - hingga akhir 2013
Andrea Iannone - ITA - Pramac Ducati - hingga akhir 2013*
Stefan Bradl - JER - LCR Honda/HRC - hingga akhir 2014
Alvaro Bautista - SPA - Gresini Honda - hingga akhir 2013

Tim CRT:

Colin Edwards - USA - Forward Racing - hingga akhir 2013
Claudio Corti - ITA - Forward Racing - hingga akhir 2013*
Karel Abraham - CZE - Cardion AB - hingga akhir 2013
Randy de Puniet - PRA - Power Electronics Aspar - hingga akhir 2013
Alex Espargaro - SPA - Power Electronics Aspar - hingga akhir 2013
Hiroshi Aoyama - JAP - Avintia Blusens - hingga akhir 2013
Hector Barbera - SPA - Avintia Blusens - hingga akhir 2013
Danilo Petrucci - ITA - IodaRacing - hingga akhir 2013
Lukas Pesek - CZE - IodaRacing - hingga akhir 2013*
Bryan Staring - AUS - Honda Gresini - hingga akhir 2013*
Michael Laverty - ING - Paul Bird Motorsport - hingga akhir 2013*
Yonny Hernandez - KOL - Paul Bird Motorsport - hingga akhir 2013

*) rookie (cn/kny)



Sumber ; Merdeka
0 komentar

Valentino Rossi Juara Reli Monza 2012

Valentino Rossi berharap, kemenangannya di ajang Reli Monza akhir pekan lalu, menjadi tanda kebangkitan dan keberuntungannya pada MotoGP musim 2013. Pada musim baru nanti, "The Doctor" sudah kembali bergabung bersama Yamaha, tim yang pernah membawanya meraih empat gelar juara dunia kelas premier.

Valentino Rossi Juara Reli Monza 2012
Valentino Rossi diapiti para wanita dari pihak sponsor, saat tampil di Reli Monza. Rossi menjuarai event itu, Minggu (25/11/2012). / foto : kompas.com

Mengendarai Ford Fiesta WRC, Rossi mengalahkan Dindo Capello, yang menggunakan mobil Citroen, dengan keunggulan 2,8 detik, setelah menyelesaikan sembilan stage. Ini merupakan kemenangan ketiga Rossi di Reli Monza, setelah kesuksesan pada tahun 2006 dan 2007. Rivalnya sesama bintang MotoGP, Andrea Dovizioso dan Jorge Lorenzo, harus puas finis di posisi kelima dan ke-10.

Selain itu, Rossi juga memenangi kontes Masters Show. Dia kembali mengungguli Capello.

Atas prestasi di arena roda empat tersebut, Rossi berharap bisa menular ke balapan roda dua musim 2013. Juara dunia tujuh kali MotoGP ini ingin mengakhiri masa-masa sulit selama dua tahun yang dialaminya bersama Ducati, di mana dia hanya mampu naik podium sebanyak tiga kali, dan tak pernah menjadi pemenang.


Nah, harapan untuk mengakhiri paceklik kemenangan itu muncul seiring keputusannya untuk kembali bergabung dengan Yamaha. Bersama tim "Garputala" ini, yang ditinggalkan pada awal 2011 setelah memperkuatnya selama tujuh tahun, Rossi berhasil menyabet empat gelar juara dunia plus 46 kemenangan. Kemenangan terakhir yang diraih Rossi adalah pada 2010 di GP Malaysia.

"Ini lebih dari sebuah kemenangan yang normal," ujar Rossi kepada Gazzetta dello Sport, seperti dikutip dari Autosport, Selasa (27/11/2012).

"Ketika anda naik ke posisi teratas podium maka selalu terasa spesial, tetapi yang utama saya berharap ini menjadi titik balik setelah mengalami dua musim yang sulit, sayangnya sulit melakukan prediksi.

"Semoga ini merupakan awal dari era baru. Kami juga perlu kembali ke jalur kemenangan di MotoGP."

Dengan keputusannya untuk kembali bergabung dengan Yamaha, maka Rossi akan setim lagi dengan Lorenzo, juara dunia 2010 dan 2011. Kini, Rossi harus rela statusnya menjadi nomor dua.


Sumber : Kompas
0 komentar
 
Support : Creating Website | T. Raflie Robi Sonata |
Copyright © 2013. Info Kita Saja - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Obyz Pharmacist
Proudly powered by Blogger